Senin, 18 Mei 2009

Renungan di Hari Pendidikan Nasional
(Heru Warsono)

Tulisan ini hanya sekadar pepeling, upaya mengingatkan kembali (remind), bahwa bersekolah adalah upaya sadar memasuki lembaga pendidikan untuk menjadi manusia terdidik. Orang Jawa senantiasa memaknainya dengan ungkapan yang sederhana dadi uwong. Sebuah ungkapan yang menggelitik untuk dicermati, bukankah kita ini manusia mengapa masih dituntut untuk menjadi manusia. Agaknya ruang kesadaran manusia Jawa memiliki kepekaan yang tinggi, betapa di tengah-tengah “rimbunnya” manusia terdapat berbagai karakter alamiah yang tak kuasa ditanggalkan, karakter dasar yang sejak zaman kuna menyertai polah-tingkah manusia, karakter kebinatangan. Maka bersekolah menjadi sebuah jalan di antara sekian banyak jalan menanggalkan atribut tak sedap ini, menjadi terdidik untuk mampu menanggalkan (eliminate), atau sekurang-kurangnya mengasingkan (alienate) karakter kebinatangan, untuk digantikan dengan wajah manusia (humanis), jujur, beretika, adil, bijaksana, beretos kerja.
Ironisnya, proses memanusiakan manusia ini seringkali terdistorsi oleh berbagai hal, sehingga hasil akhir yang diperoleh justru berbanding terbalik dengan yang diharapkan. Menuliskan kalimat ini saya teringat dengan judul buku yang di tulis oleh Sucipto Hadi Purnomo (2008), seorang dosen jurusan Bahasa Jawa di UNNES Semarang, Belajar Dusta di Sekolah Kita! Benarkah efek samping ini yang lebih terasa.
Pendustaan di mana-mana
Ayo, dalam setiap PR mu berapa dusta yang kau buat, dalam setiap terlambatmu berapa dusta yang tergurat, dalam setiap nilaimu berapa dusta yang melekat? Terlampau banyak, tak terhitung, mengapa ini terjadi. Terdapat berbagai penyebab, antara lain terdapat kaitan antara penetapan kriteria ketuntasan (mastery learning) dengan perilaku dusta. Penetapan kriteria ketuntasan bermula dari pemikiran positif bahwa seorang siswa dianggap telah menguasai pembelajaran apabila ia berhasil sama dengan atau melampau patokan yang ditetapkan. Idealnya, ia harus menjadi batu pijakan bagi peserta didik untuk mencapainya bahkan melampauinya. Keadaan ini memang berlaku dan benar-benar berlaku pada beberapa siswa yang memiliki orientasi belajar yang benar, tetapi ia berubah menjadi batu sandungan bagi sebagian siswa yang lain.
Sandungan ini menjadi lebih besar ketika pada diri siswa terdapat bibit perilaku menyimpang, antara lain pemalas dan cenderung menggampangkan persoalan. Tak perlu mengerjakan tugas, tak perlu mengulang belajar di rumah, tak perlu susah-susah mendengarkan keterangan guru, tak perlu repot-repot mengikuti praktik, karena ada solusi jitu pengerjaan ulangan mencontek (procrastinate). Sehingga untuk siswa jenis ini kepuasan tidak terletak pada pengusaan kompetensi tetapi lebih pada pencapaian nilai. Memang dusta bisa terjadi di mana-mana kan?
Tapi tidak adil rasanya jika kesalahan ini hanya ditimpakan kepada siswa. Sistem penilaian yang lebih berorientasi pada penghargaan kapabilitas intelektual bertahun-tahun telah menjadi racun bagi siswa untuk menjadi pendusta. Bukankah kecerdasan seseorang tidak mutlak harus diukur dengan kemampuan intelektual. Keterampilan berkarya, kemampuan berempati, dan berbagai kemampuan yang lain, harus menjadi bahan pertimbangan pemberian penghargaan kepada siswa.
Akhirnya saya harus kembali mengingatkan, menjadi terdidik seharusnya dipandang sebagai sebuah kebutuhan primer bagi siapa saja, tidak perlu ada kata tak sempat, apalagi terlambat! Tata kembali tujuan hidup, jika tak mampu untuk perbaikan umat, niatkan untuk perbaikan martabat diri tak perlu terlalu terbebani tetapi semua harus diniatkan secara bersungguh-sungguh.

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Rabu, 20 Agustus 2008

Siswa SMA, Setujukah?

Mengekplorasi dunia pendidikan terasa sebagai kegiatan yang tak pernah ada kata selesai. Tuntutan ke arah kemajuan semakin manjadi fardhu ain oleh sebab itu wajib hukumnya untuk diusahakan oleh semua yang terlibat dalam urusan tersebut, karena apa artinya sebuah usaha yang menamakan diri sebagai usaha pendidikan ketika tak mampu menyentuh relung terdalam dari kehidupan pribadi bangsa dan tak memberi makna yang berarti. Pendidikan harus termaknai sebagai usaha sadar untuk mengantarkan peserta didik mampu menjadi diri sendiri yang terbangun jiwa dan raganya di tengah-tengah gejolak perubahan yang terus berkembang.

Cara pandang miopis

Upaya mengantarkan peserta didik menjadi insan terdidik menjadi semakin rumit, meskipun prosesnya sering tampak terotomatisasi dalam bingkai belajar mengajar, dan naik/lulus. Jika tanpa penghayatan Ia akan menjadi sebuah rutinitas yang menjemukan, karena terpola dalam kemasan yang sama, sehingga terbaca dan berpengaruh terhadap cara pandang peserta didik, cara pandang mereka cenderung menjadi miopis,-- pendekatan jangka pendek/sesaat, hanya sekadar ikuti pelajaran dan naik/lulus, contek kanan nurun kiri dan nilai bagus, masa bodoh dengan persentase daya serap, persetan dengan kompetensi, bagi mereka nilai rapor hanya deretan bilangan yang tak perlu diverifikasi tingkat kesetaraannya dengan kompetensi. Apa arti nilai bagi mereka? Jawabnya adalah emang gue pikirin!

Kondisi generasi egp di atas harus segera disadari oleh peserta didik. Untuk itu, diperlukan para penyadar, orang tua harus mengambil porsi terdepan, selanjutnya guru, pembimbing/pelatih, teman sepermainan, mengondisikan untuk lebih care bahwa masa depan harus dibangun dengan kesadaran bahwa setiap pekerjaan pada hakikatnya adalah pencitraan diri sendiri, ibarat cermin tempat kita mematut rupa. Oleh sebab itu, harus dilaksanakan dengan tanggung jawab penuh.

Tidak mudah untuk membangun ruang kesadaran ini, ketika peserta didik masih menganggap nyontek, nurun, dan yang sejenisnya sebagai hal yang wajar. Harus ada sebuah “revolusi” cara pandang, untuk itu dibutuhkan pula revolusi treatment. Perlu dicari jalan penugasan yang tidak memungkinkan siswa melakukan reduplikasi terhadap pekerjaan temannya, perlu dicari model ulangan yang tidak memungkinkan siswa memiliki kesempatan untuk mencontek, perlu dicari model pemberian reward dan punishment yang membangun. Akhirnya perlu dicari cara menanamkan nilai kejujuran yang efektif dapat dilaksanakan oleh peserta didik secara suka rela. Mungkinkan dilakukan?

Telisik sumber penyebabnya

Dari hasil pantauan penulis, kebiasaan mencontek, nurun tidak semata-mata akibat dari kemalasan siswa. Malas, sebenarnya hanya merupakan akibat dari kurangnya kesadaran siswa melakukan orientasi terhadap tujuan belajar. Banyak siswa yang tidak paham mengapa mereka harus melanjutkan ke SMA bukan ke SMK, misalnya. Bahkan, mereka pun tak tahu apa cita-cita mereka, sehingga rumus yang mereka miliki adalah jalani hidup apa adanya, maka bersekolah dan belajar pun menjadi apa adanya pula, tanpa beban, tanpa target. Inilah yang mereka sebut sebagai perjalanan enjoy. Seolah-olah enjoy, namun hakikatnya inilah generasi bingung, generasi yang patut dikasihani.

Menyadari hal tersebut maka wajib hukumnya bagi sekolah untuk mejelaskan orientasi belajar di SMA, demikian pula guru mata pelajaran wajib pula memberikan orientasi yang tepat mengapa mata pelajarannya di ajarkan di SMA, oh ya, tak kalah penting guru BK wajib pula memberikan bekal yang cukup kepada siswa untuk mengembangkan kepribadian ke arah yang positif. Jika semua sudah melakukan sesuai dengan kewajibannya masing-masing, maka pilihan akhirnya terpulang kepada siswa jalan yang hendak mereka tempuh.

Sekadar saran

Memotivasi diri dengan memiliki cita-cita misanya, menjadi siswa teladan perlu dicoba, meminjam istilah Kang Abik dalam noveletnya berjudul Dalam Mihrab Cinta: “Jika untuk berbuat jahat berani nekat, mengapa berbuat baik tidak berani nekat pula”, paling tidak usaha memperbaiki diri telah dimulai. Ingatlah bahwa Allah sangat mencintai orang-orang yang berusaha untuk memperbaiki diri.

Sekadar saran, jadikan cita-cita sebagai obat mujarab untuk mendorong ke arah perbaikan, ia akan menjadi “senjata” efektif manakala diusahakan secara sungguh-sungguh dan tidak asal-asalan, dijaga dengan ketat dan tidak angin-anginan, serta berjuang terus memperbaiki diri dan tidak ogah-ogahan. Isya Allah tercapai.