Mengekplorasi dunia pendidikan terasa sebagai kegiatan yang tak pernah ada kata selesai. Tuntutan ke arah kemajuan semakin manjadi fardhu ain oleh sebab itu wajib hukumnya untuk diusahakan oleh semua yang terlibat dalam urusan tersebut, karena apa artinya sebuah usaha yang menamakan diri sebagai usaha pendidikan ketika tak mampu menyentuh relung terdalam dari kehidupan pribadi bangsa dan tak memberi makna yang berarti. Pendidikan harus termaknai sebagai usaha sadar untuk mengantarkan peserta didik mampu menjadi diri sendiri yang terbangun jiwa dan raganya di tengah-tengah gejolak perubahan yang terus berkembang.
Cara pandang miopis
Upaya mengantarkan peserta didik menjadi insan terdidik menjadi semakin rumit, meskipun prosesnya sering tampak terotomatisasi dalam bingkai belajar mengajar, dan naik/lulus. Jika tanpa penghayatan Ia akan menjadi sebuah rutinitas yang menjemukan, karena terpola dalam kemasan yang sama, sehingga terbaca dan berpengaruh terhadap cara pandang peserta didik, cara pandang mereka cenderung menjadi miopis,-- pendekatan jangka pendek/sesaat, hanya sekadar ikuti pelajaran dan naik/lulus, contek kanan nurun kiri dan nilai bagus, masa bodoh dengan persentase daya serap, persetan dengan kompetensi, bagi mereka nilai rapor hanya deretan bilangan yang tak perlu diverifikasi tingkat kesetaraannya dengan kompetensi. Apa arti nilai bagi mereka? Jawabnya adalah emang gue pikirin!
Kondisi generasi egp di atas harus segera disadari oleh peserta didik. Untuk itu, diperlukan para penyadar, orang tua harus mengambil porsi terdepan, selanjutnya guru, pembimbing/pelatih, teman sepermainan, mengondisikan untuk lebih care bahwa masa depan harus dibangun dengan kesadaran bahwa setiap pekerjaan pada hakikatnya adalah pencitraan diri sendiri, ibarat cermin tempat kita mematut rupa. Oleh sebab itu, harus dilaksanakan dengan tanggung jawab penuh.
Tidak mudah untuk membangun ruang kesadaran ini, ketika peserta didik masih menganggap nyontek, nurun, dan yang sejenisnya sebagai hal yang wajar. Harus ada sebuah “revolusi” cara pandang, untuk itu dibutuhkan pula revolusi treatment. Perlu dicari jalan penugasan yang tidak memungkinkan siswa melakukan reduplikasi terhadap pekerjaan temannya, perlu dicari model ulangan yang tidak memungkinkan siswa memiliki kesempatan untuk mencontek, perlu dicari model pemberian reward dan punishment yang membangun. Akhirnya perlu dicari cara menanamkan nilai kejujuran yang efektif dapat dilaksanakan oleh peserta didik secara suka rela. Mungkinkan dilakukan?
Telisik sumber penyebabnya
Dari hasil pantauan penulis, kebiasaan mencontek, nurun tidak semata-mata akibat dari kemalasan siswa. Malas, sebenarnya hanya merupakan akibat dari kurangnya kesadaran siswa melakukan orientasi terhadap tujuan belajar. Banyak siswa yang tidak paham mengapa mereka harus melanjutkan ke SMA bukan ke SMK, misalnya. Bahkan, mereka pun tak tahu apa cita-cita mereka, sehingga rumus yang mereka miliki adalah jalani hidup apa adanya, maka bersekolah dan belajar pun menjadi apa adanya pula, tanpa beban, tanpa target. Inilah yang mereka sebut sebagai perjalanan enjoy. Seolah-olah enjoy, namun hakikatnya inilah generasi bingung, generasi yang patut dikasihani.
Menyadari hal tersebut maka wajib hukumnya bagi sekolah untuk mejelaskan orientasi belajar di SMA, demikian pula guru mata pelajaran wajib pula memberikan orientasi yang tepat mengapa mata pelajarannya di ajarkan di SMA, oh ya, tak kalah penting guru BK wajib pula memberikan bekal yang cukup kepada siswa untuk mengembangkan kepribadian ke arah yang positif. Jika semua sudah melakukan sesuai dengan kewajibannya masing-masing, maka pilihan akhirnya terpulang kepada siswa jalan yang hendak mereka tempuh.
Sekadar saran
Memotivasi diri dengan memiliki cita-cita misanya, menjadi siswa teladan perlu dicoba, meminjam istilah Kang Abik dalam noveletnya berjudul Dalam Mihrab Cinta: “Jika untuk berbuat jahat berani nekat, mengapa berbuat baik tidak berani nekat pula”, paling tidak usaha memperbaiki diri telah dimulai. Ingatlah bahwa Allah sangat mencintai orang-orang yang berusaha untuk memperbaiki diri.
Sekadar saran, jadikan cita-cita sebagai obat mujarab untuk mendorong ke arah perbaikan, ia akan menjadi “senjata” efektif manakala diusahakan secara sungguh-sungguh dan tidak asal-asalan, dijaga dengan ketat dan tidak angin-anginan, serta berjuang terus memperbaiki diri dan tidak ogah-ogahan. Isya Allah tercapai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar